Nostalgia Jilid II
Saat itu suasana di kelas terasa sangat mencekam, tidak tau kenapa apa karena lokasi kelas yang terlalu dekat dengan Kantor TU yang menjadi tempat Bpk. H. Taufik bermuara? ataukah karena hari itu adalah hari dimana semua Siswa-siswi yang ada disana untuk pertama kalinya menyandang Status sebagai Anak IPA? Begitu apriorinya terhadap IPA karena rumor yang beredar mengatakan bahwa kelas IPA tak ubahnya seperti Penjara yang dihuni oleh macan-macan eksak.
Benar saja ketika melihat siswa-siswi disekeliling kelas itu, sepertinya semua memiliki naluri eksak yang sangat tinggi terlihat dari pandangan mata mereka yang fokus, tajam dan mencekam. Apalagi ketika tahu bahwa mereka merupakan wakil-wakil terbaik di kelas X. Hari pertama komunikasi terasa canggung mereka hanya asyik ngobrol sesama temannya di kelas X, meskipun tidak semua temannya masuk kelas yang sama di kelas XI karena tembok penghalang bernama IPA-IPS namun mereka terlihat sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus melupakan temannya di kelas X dan menemukan teman baru di kelas XI. Memang penjurusan IPA-IPS telah merenggut kebersamaan di kelas X. Sebut saja Eneng Nuraisyah, ia harus rela berpisah dengan soulmatenya dikelas XD (Ulfah Zakiyah), lalu Si Kutu Buku Sry Rahayu, kebersamaannya dengan Erna harus terpisahkan oleh jarak (meskipun jaraknya hanya sekitar 10 meter antara XI IPA 1 dan XI IPA 2), begitu juga Ari Armadi yang harus bersedih hati ketika teman sebangkunya memilih untuk masuk ke Jurusan IPS. Ajid Wijayandi bersikukuh untuk menjalani hidupnya di dunia Sosial, meskipun sebelum penjurusan itu terjadi perdebatan yang cukup panjang dan hampir membuat persahabatan mereka hancur berantakan. Tapi “nasi sudah menjadi bubur” atau adakah pribahasa lain yang bisa menjelaskan tentang aksi konyol seseorang Ajid yang nekat mengganti keputusannya. Rasanya perkataan Bu Syifa yang melarang siswa untuk pindah jurusan tak berlaku untuk dirinya, dengan berbagai prosedur yang rumit akhirnya dia bisa masuk IPA, jurusan yang dulu ia tidak sukai bahkan ia benci kini menjadi tempat bernaungnya selama beberapa tahun kedepan. Mungkin itu terkesan nekat dan konyol tapi penjurusan bukanlah hal yang sepele karena dengan memilih IPA berarti kita telah memilih untuk fokus terhadap mata pelajaran IPA, tak akan ada sosiologi, geografi dan ekonomi disana begitu juga sebaliknya jika seseorang memilih IPS berarti mereka hanya akan bergelut dengan mata pelajaran IPS tak akan ada Kimia, Biologi dan Fisika oleh karenanya Hanya orang-orang dengan fikiran matang yang memutuskan untuk berpindah jurusan.
Dari sekian banyak Siswa-siswi dikelas itu ada salah seorang siswa yang tak pernah terlihat sebelumnya ketika kelas X, benar saja karena ia adalah Siswa baru pindahan dari Sebuah Pesantren ternama di daerah Kota Bogor. Namanya tak asing lagi terutama di dunia terorisme, Faisal Azhari. Namun dalam raut wajahnya tak ada sedikitpun tampang terorisme ataupun kriminal. Meskipun memakai kaca mata ia malah lebih mirip dengan salah satu Guru Madrasah Aliyah Negeri Jonggol yang membidangi mata pelajaran Biologi sekaligus Staf yang membidangi urusan BP. Siapa lagi kalo bukan Ibu Siti Fatimah atau yang akrab di sapa Bu Syifa, ternyata memang betul dia memiliki hubungan darah dengan beliau. Dalam silsilah keluarganya Bu Syifa merupakan adik dari Ayahnya.
Dikelas XI Pak Ali Nurdin didaulat sebagai wali kelas XI IPA 1, beliau merupakan salah satu guru bidang study Bahasa Arab yang pernah berkecimpung di dunia Politik, karena Beliau pernah menjabat sebagai petinggi salah satu Partai Politik yang digagas oleh Amien Rais, PAN. Bagi beliau PAN bukan hanya Partai Amanat Nasional tetapi juga Partai Ali Nurdin Begitu guyonannya ketika bebicara pertama kali di kelas XI IPA 1 untuk memperkenalkan diri. Meski di kelas yang penuh dengan hal-hal yang berbau eksak tapi beliau berhasil mencairkan suasana menjadi lebih relax dan santai penuh dengan canda dan tawa.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya sekat-sekat yang dulu memisahkan antara satu siswa dengan lainnya berhasil diruntuhkan, kini mereka mulai menunjukan jati diri dan kepribadiannya satu sama lain. Tak lengkap rasanya jika sebuah kelas belum memiliki seorang pemimpin, oleh karenanya KPU yang diprakarsai oleh Irvan Maulana berinisiatif mengadakan Pemilihan Umum untuk menentukan siapa KM kelas XI IPA 1. Direkomendasikanlah saat itu 6 orang kandidat yang terdiri dari 2 siswa dan 4 siswi. Emansipasi wanita sangat terlihat sekali disana, mereka dengan leluasa bisa bersaing untuk menduduki kursi tertinggi di kelas XI IPA 1. Sedikit ulasan mengenai profil singkat kandidat KM XI IPA 1 :
2. Olis Setiawati
Watak Sry Rahayu yang terkesan keras dan buas kontradiktif dengan Olis Setiawati yang dikenal sebagai sosok yang pendiam, tak banyak kata yang keluar dari mulutnya Tapi bukan berarti ia tak bisa bersilat lidah, dalam ranah debat ia bisa saja berubah menjadi sangat vokal. Penggemar novel yang bertajuk “Cinta Suci Zahrana” ini lebih menikmati kehidupan yang jauh dari keramaian hanya novel yang bisa menemani kesehariannya.
3. Tati Pujiati
Tak banyak yang penulis ketahui tentang dirinya, namun bukan berarti ia asing dimata penulis. pasalnya di MADRASAH ALIYAH NEGERI JONGGOL bukanlah kali pertama penulis mengenal dirinya, karena sebelum menganakan seragam putih – abu di sekolah yang sama, sejarah menunjukan bahwa kami juga pernah mencicipi pendidikan formal tingkat SLTP di sekolah yang sama pada kurun waktu 2005 – 2008 tepatnya di MTsN Cariu. Berdasarkan survei LSI yang dilakukan terhadap beberapa koresponden, dapat disimpulkan bahwa ia merupakan sosok yang pandai bergaul, kepiawaiannya dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan menjadikan dirinya sangat dikenal terutama sebagai seorang organisatoris sejati. Oleh karenanya ia selalu mendapatkan kursi terhormat di dalam organisasi yang ditekuninya.
4. Siti Nurwahidah Dini
Perempuan yang akrab dipanggil Dini ini sering menjadi andalan teman-temannya dalam berbagai hal, ia tak lebih dari seorang Ibu yang selalu bersedia melakukan apapun yang diinginkan anaknya. Namun tak jarang kebaikannya ini sering disalahgunakan oleh segelintir orang yang ingin memanfaatkan jasanya. Tapi dini tetaplah dini, seburuk apapun perlakuan orang terhadapnya tak pernah ia berniat membalasnya. Yang ia bisa lakukan hanyalah menangis yang merupakan salah satu fitrah wanita pada umumnya. Tak ayal jika ia sering dijadikan asisten/kepercayaan oleh para guru.
5. Faisal Azhari
Meskipun ia terbilang baru menjadi siswa MADRASAH ALIYAH NEGERI JONGGOL namun bukan berarti menyurutkan langkahnya untuk meraih kasta tertinggi di kancah perpolitikan XI IPA 1. Wajahnya yang rupawan mampu menghipnotis wanita yang ada di sekitarnya sehingga tak ayal jika ia terpilih menjadi salah satu kandidat KM XI IPA
6. Ari Armadi
Tidak ada alasan yang kredibel mengapa ia terpilih menjadi salah satu kandidat KM XI IPA 1. Pasalnya selain tak memiliki keistimewaan apapun ia juga didaulat sebagai sosok yang penuh dengan “kontroversial”. Entah bagaimana caranya ia berhasil lolos verifikasi namun yang pasti jabatan seperti ini sudah ia rasakan berkali-kali meskipun miskin prestasi, XD adalah kelas terakhir yang ia pimpin selama satu periode. Kandidat yang satu ini memang tidak seperti yang lainnya, Organisasi sekelas Pramuka, Paskibra dan PMR tak satupun diikutinya. Hanya OSIS yang menjadi tumpuannya saat itu untuk bisa dijadikan alat politik demi merengkuh kursi tertinggi di XI IPA 1. Dengan mengusung slogan “bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi” ia optimis bisa meraih suara terbanyak pada Pemilu mendatang.
Bagaimanapun setiap kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangan satu sama lain, Profil diatas hanyalah untaian singkat yang tentunya tidak dapat dijadikan tolak ukur secara relevan mengingat dalam politik apapun bisa terjadi...
> to be continued
silahkan tinggalkan komentar anda...
"dengan memberikan komentar berarti anda telah ikut berpartisipasi dalam upaya mengurangi pemanasan global"
Saat itu suasana di kelas terasa sangat mencekam, tidak tau kenapa apa karena lokasi kelas yang terlalu dekat dengan Kantor TU yang menjadi tempat Bpk. H. Taufik bermuara? ataukah karena hari itu adalah hari dimana semua Siswa-siswi yang ada disana untuk pertama kalinya menyandang Status sebagai Anak IPA? Begitu apriorinya terhadap IPA karena rumor yang beredar mengatakan bahwa kelas IPA tak ubahnya seperti Penjara yang dihuni oleh macan-macan eksak.
Benar saja ketika melihat siswa-siswi disekeliling kelas itu, sepertinya semua memiliki naluri eksak yang sangat tinggi terlihat dari pandangan mata mereka yang fokus, tajam dan mencekam. Apalagi ketika tahu bahwa mereka merupakan wakil-wakil terbaik di kelas X. Hari pertama komunikasi terasa canggung mereka hanya asyik ngobrol sesama temannya di kelas X, meskipun tidak semua temannya masuk kelas yang sama di kelas XI karena tembok penghalang bernama IPA-IPS namun mereka terlihat sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus melupakan temannya di kelas X dan menemukan teman baru di kelas XI. Memang penjurusan IPA-IPS telah merenggut kebersamaan di kelas X. Sebut saja Eneng Nuraisyah, ia harus rela berpisah dengan soulmatenya dikelas XD (Ulfah Zakiyah), lalu Si Kutu Buku Sry Rahayu, kebersamaannya dengan Erna harus terpisahkan oleh jarak (meskipun jaraknya hanya sekitar 10 meter antara XI IPA 1 dan XI IPA 2), begitu juga Ari Armadi yang harus bersedih hati ketika teman sebangkunya memilih untuk masuk ke Jurusan IPS. Ajid Wijayandi bersikukuh untuk menjalani hidupnya di dunia Sosial, meskipun sebelum penjurusan itu terjadi perdebatan yang cukup panjang dan hampir membuat persahabatan mereka hancur berantakan. Tapi “nasi sudah menjadi bubur” atau adakah pribahasa lain yang bisa menjelaskan tentang aksi konyol seseorang Ajid yang nekat mengganti keputusannya. Rasanya perkataan Bu Syifa yang melarang siswa untuk pindah jurusan tak berlaku untuk dirinya, dengan berbagai prosedur yang rumit akhirnya dia bisa masuk IPA, jurusan yang dulu ia tidak sukai bahkan ia benci kini menjadi tempat bernaungnya selama beberapa tahun kedepan. Mungkin itu terkesan nekat dan konyol tapi penjurusan bukanlah hal yang sepele karena dengan memilih IPA berarti kita telah memilih untuk fokus terhadap mata pelajaran IPA, tak akan ada sosiologi, geografi dan ekonomi disana begitu juga sebaliknya jika seseorang memilih IPS berarti mereka hanya akan bergelut dengan mata pelajaran IPS tak akan ada Kimia, Biologi dan Fisika oleh karenanya Hanya orang-orang dengan fikiran matang yang memutuskan untuk berpindah jurusan.
Dari sekian banyak Siswa-siswi dikelas itu ada salah seorang siswa yang tak pernah terlihat sebelumnya ketika kelas X, benar saja karena ia adalah Siswa baru pindahan dari Sebuah Pesantren ternama di daerah Kota Bogor. Namanya tak asing lagi terutama di dunia terorisme, Faisal Azhari. Namun dalam raut wajahnya tak ada sedikitpun tampang terorisme ataupun kriminal. Meskipun memakai kaca mata ia malah lebih mirip dengan salah satu Guru Madrasah Aliyah Negeri Jonggol yang membidangi mata pelajaran Biologi sekaligus Staf yang membidangi urusan BP. Siapa lagi kalo bukan Ibu Siti Fatimah atau yang akrab di sapa Bu Syifa, ternyata memang betul dia memiliki hubungan darah dengan beliau. Dalam silsilah keluarganya Bu Syifa merupakan adik dari Ayahnya.
Dikelas XI Pak Ali Nurdin didaulat sebagai wali kelas XI IPA 1, beliau merupakan salah satu guru bidang study Bahasa Arab yang pernah berkecimpung di dunia Politik, karena Beliau pernah menjabat sebagai petinggi salah satu Partai Politik yang digagas oleh Amien Rais, PAN. Bagi beliau PAN bukan hanya Partai Amanat Nasional tetapi juga Partai Ali Nurdin Begitu guyonannya ketika bebicara pertama kali di kelas XI IPA 1 untuk memperkenalkan diri. Meski di kelas yang penuh dengan hal-hal yang berbau eksak tapi beliau berhasil mencairkan suasana menjadi lebih relax dan santai penuh dengan canda dan tawa.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya sekat-sekat yang dulu memisahkan antara satu siswa dengan lainnya berhasil diruntuhkan, kini mereka mulai menunjukan jati diri dan kepribadiannya satu sama lain. Tak lengkap rasanya jika sebuah kelas belum memiliki seorang pemimpin, oleh karenanya KPU yang diprakarsai oleh Irvan Maulana berinisiatif mengadakan Pemilihan Umum untuk menentukan siapa KM kelas XI IPA 1. Direkomendasikanlah saat itu 6 orang kandidat yang terdiri dari 2 siswa dan 4 siswi. Emansipasi wanita sangat terlihat sekali disana, mereka dengan leluasa bisa bersaing untuk menduduki kursi tertinggi di kelas XI IPA 1. Sedikit ulasan mengenai profil singkat kandidat KM XI IPA 1 :
- Sry Rahayu
2. Olis Setiawati
Watak Sry Rahayu yang terkesan keras dan buas kontradiktif dengan Olis Setiawati yang dikenal sebagai sosok yang pendiam, tak banyak kata yang keluar dari mulutnya Tapi bukan berarti ia tak bisa bersilat lidah, dalam ranah debat ia bisa saja berubah menjadi sangat vokal. Penggemar novel yang bertajuk “Cinta Suci Zahrana” ini lebih menikmati kehidupan yang jauh dari keramaian hanya novel yang bisa menemani kesehariannya.
3. Tati Pujiati
Tak banyak yang penulis ketahui tentang dirinya, namun bukan berarti ia asing dimata penulis. pasalnya di MADRASAH ALIYAH NEGERI JONGGOL bukanlah kali pertama penulis mengenal dirinya, karena sebelum menganakan seragam putih – abu di sekolah yang sama, sejarah menunjukan bahwa kami juga pernah mencicipi pendidikan formal tingkat SLTP di sekolah yang sama pada kurun waktu 2005 – 2008 tepatnya di MTsN Cariu. Berdasarkan survei LSI yang dilakukan terhadap beberapa koresponden, dapat disimpulkan bahwa ia merupakan sosok yang pandai bergaul, kepiawaiannya dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan menjadikan dirinya sangat dikenal terutama sebagai seorang organisatoris sejati. Oleh karenanya ia selalu mendapatkan kursi terhormat di dalam organisasi yang ditekuninya.
4. Siti Nurwahidah Dini
Perempuan yang akrab dipanggil Dini ini sering menjadi andalan teman-temannya dalam berbagai hal, ia tak lebih dari seorang Ibu yang selalu bersedia melakukan apapun yang diinginkan anaknya. Namun tak jarang kebaikannya ini sering disalahgunakan oleh segelintir orang yang ingin memanfaatkan jasanya. Tapi dini tetaplah dini, seburuk apapun perlakuan orang terhadapnya tak pernah ia berniat membalasnya. Yang ia bisa lakukan hanyalah menangis yang merupakan salah satu fitrah wanita pada umumnya. Tak ayal jika ia sering dijadikan asisten/kepercayaan oleh para guru.
5. Faisal Azhari
Meskipun ia terbilang baru menjadi siswa MADRASAH ALIYAH NEGERI JONGGOL namun bukan berarti menyurutkan langkahnya untuk meraih kasta tertinggi di kancah perpolitikan XI IPA 1. Wajahnya yang rupawan mampu menghipnotis wanita yang ada di sekitarnya sehingga tak ayal jika ia terpilih menjadi salah satu kandidat KM XI IPA
6. Ari Armadi
Tidak ada alasan yang kredibel mengapa ia terpilih menjadi salah satu kandidat KM XI IPA 1. Pasalnya selain tak memiliki keistimewaan apapun ia juga didaulat sebagai sosok yang penuh dengan “kontroversial”. Entah bagaimana caranya ia berhasil lolos verifikasi namun yang pasti jabatan seperti ini sudah ia rasakan berkali-kali meskipun miskin prestasi, XD adalah kelas terakhir yang ia pimpin selama satu periode. Kandidat yang satu ini memang tidak seperti yang lainnya, Organisasi sekelas Pramuka, Paskibra dan PMR tak satupun diikutinya. Hanya OSIS yang menjadi tumpuannya saat itu untuk bisa dijadikan alat politik demi merengkuh kursi tertinggi di XI IPA 1. Dengan mengusung slogan “bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi” ia optimis bisa meraih suara terbanyak pada Pemilu mendatang.
Bagaimanapun setiap kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangan satu sama lain, Profil diatas hanyalah untaian singkat yang tentunya tidak dapat dijadikan tolak ukur secara relevan mengingat dalam politik apapun bisa terjadi...
> to be continued
silahkan tinggalkan komentar anda...
"dengan memberikan komentar berarti anda telah ikut berpartisipasi dalam upaya mengurangi pemanasan global"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar