Senin, 30 April 2012

Signal Perpisahan dibalik Euforia Wisuda MAN Jonggol 2011

by Ari Armadi on Friday, December 2, 2011 at 4:30pm ·
“Banyak orang yang  akan  datang dan pergi dari kehidupan Anda, tetapi hanya teman sejati yang meninggalkan jejak di dalam hati Anda”  

          Terbersit dalam kalbu masih teringat saat terakhir kali kita berkumpul bersama tepatnya pada tanggal (lupa lagi) pada waktu itu kita bahkan tidak menyadari bahwa euforia tersebut sebagai signal perpisahan  setelah sekian lama belajar bersama manjalin tali persahabatan. Dengan kostum serba biru (untuk laki-laki) yang memang sudah menjadi landmark almamater Madrasah Aliyah Negeri Jonggol Siswa Calon Alumni pun siap tebar pesona.

Seakan tak mau kalah dari eksistensi lawan jenisnya, kaum hawa pun menunjukan kebolehannnya. Berbagai mode racikan designer ternama senantiasa hadir dalam acara itu. Sehingga sekilas Siswi Calon Alumni MAN Jonggol pun tak ubahnya Princes Kate Midleton dengan gaun indahnya yang fashionable. sungguh mempesona....

Acara demi acara berjalan secara khidmat sehingga sampailah di penghujung acara, sebuah moment yang tak bisa dilupakan disaat satu per satu dari kita naik ke atas panggung. XII IPA 1 yang saat itu berkesempatan menjadi kelas pertama dalam prosesi sakral mengutus Abdullah Nur Huda Bin H. Tolib sebagai siswa pertama yang naik ke atas panggung. Bocah ini beruntung karena berada di urutan pertama dalam absensi kelas XII IPA 1, disusul Abidin, Ajid Wijayandi dan seterusnya.

Haru dan isak tangis mewarnai prosesi itu, tak terkecuali siswa dan siswi yang sering berlangganan dengan kesiswaan dalam berbagai kasus. Keegoisan dan kengkuhan seakan tak terdeteksi. Mereka semua dengan khusyu bermusyafahah menyadari kesalahan satu sama lain tak lupa bersimpuh padu dihadapan guru-guru, staf TU dan lainnya.

Setelah resmi dinyatakan sebagai Alumni MAN Jonggol, kita bersuka ria berpesta fora merayakannya. Wisuda kali ini terasa spesial karena MAN Jonggol berhasil meluluskan Siswa-siswinya dengan persentase 100 %. Sebuah pencapaian yang luar biasa disaat regulasi UN dipersulit dan diperumit bagaimana tidak, soal yang disajikan dalam UN bukan hanya multiple choice (pilihan ganda) tetapi juga multiple paket (dengan kode dan tempat duduk yang tidak beraturan). Tapi MAN Jonggol berhasil menunjukan kelasnya sebagai sekolah yang baru saja menyandang gelar Akreditasi A.

Selesai acara kini semuanya disibukan dengan kamera bawaannya masing-masing, seakan tak mau melewatkan moment-moment terakhir ini, mereka dengan lincah berpose di depan kamera menirukan gaya model papan atas Indonesia. Moment ini juga dimanfaatkan oleh para siswa-siswi kelas X dan XI yang ikut berfoto bersama sebelum mereka ditinggalkan para seniornya. pada saat itu kami bak seperti artis dadakan yang harus menerima permintaan fans yang ingin berfoto bersama.

setelah sesi pemotretan yang cukup alot, semuanya dikejutkan dengan kedatangan artis sungguhan, dengan Mobil Grand Livina, Salim cs berhasil menghipnotis ribuan pasang mata tertuju padanya. Mungkin bagi sebagian orang disana khususnya warga Kp. Menan melihat artis secara langsung adalah hal yang sangat tabu dan unusual sehingga tak heran jika mereka terkejut bukan kepalang.

Setelah kedatangan Salim cs ke lokasi acara seakan tak ingin melewatkan moment tersebut para hadirin mengeluarkan telepon genggamnya masing-masing namun bukan untuk menelpon atau mengirim SMS, melainkan mengalihkan fungsi menjadi  kamera meskipun dengan resolusi seadanya mereka terlihat begitu antusias. Saking antusiasnya mereka rela berdesak-desakan demi mendapatkan foto sang idola. Keadaan ini memang tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, sempat beredar rumor bahwa ada segelintiran Siswa yang tidak akan menghadiri Acara Perpisahan dengan dalih kecewa terhadap panitia yang lebih memilih mendatangkan artis ibukota dari pada Band. karena sudah menjadi ritual tahunan jika setiap ada acara perpisahan maka selalu ada Band Perfomance disana. Namun situasi saat itu seakan menjawab keragu-raguan publik yang pesimis terhadap Acara tersebut yang diperkirakan tak akan berjalan seru tanpa dilengkapi Band Performance. Akhirnya acara ditutup dengan penampilan kreasi seni siswa-siswi MAN  Jonggol.

Mungkin ini adalah satu dari sekian banyak kisah kita di MAN Jonggol. Benar saja pasca moment itu sulit rasanya bagi kita untuk  berkumpul bersama seperti dulu. Jalan hidup yang berbeda telah memisahakan kebersamaan kita yang sudah cukup lama terjalin. Kini dengan berbagai kesibukan yang dimiliki sangatlah tepat untuk mereview sejenak kenangan masa lalu,  bahkan ketika melihat file dokumenter raga  ini seakan terlempar jauh ke masa-masa dimana kita melangsungkan kehidupan sebagai pribadi Siswa-siswi MAN Jonggol.

“Putih abu adalah sejarah hidupmu, sebagian membuatmu ingin melupakannya, sebagian lainnya membuatmu ingin kembali padanya namun apalah daya jika kamu terikat dalam realitas hari ini, Waktu tak mengenal kompromi, ia  tidak akan pernah mundur bahkan tidak akan pernah berhenti walau hanya sejenak saja. Terpisah oleh jarak dan waktu bukan berarti koneksi emosional terputus. justru jarak dan waktu memungkinkanmu memiliki rasa rindu”

Kita ini di ibaratkan seperti pohon yang memiliki akar dan batang pohonnya. Setinggi apapun ia menjulang  tapi tetap saja memiliki koneksi satu dengan lainnya

> To Be Continued <
Nantikan kisah selanjutnya...


Written By : Ari Armadi

· · · Share · Delete